Terbentuk pada 2019, The Bunbury terdiri dari Mirza (vokal), Fikra (gitar), Dimas (gitar), Guyub (bass), dan Eja (drum). Terinspirasi oleh Oscar Wilde dan gagasan “Bunburying”, yaitu melarikan diri melalui identitas lain, band ini menjadi ruang aman bagi seluruh anggotanya untuk mengekspresikan sisi diri yang sulit muncul dalam hidup sehari hari.
Setelah kira-kira satu tahun tenggelam dalam jeda yang sunyi, The Bunbury kembali muncul ke permukaan dengan tidak terburu-buru dan tak ingin mengejar apapun selain diri mereka sendiri.
EP “Romance Reigns” seolah ingin menjadi pengingat, bahwa romansa tidak pernah benar benar pergi. Ia hanya berubah bentuk dan tujuan. Empat lagu dalam EP ini akan dirilis dalam format digital pada 14 Februari 2026, dua fase perjalanan yang menandakan mereka mulai kembali.
Romansa: Siklus yang Tetap Menguasai EP “Romance Reigns” bercerita tentang romansa sebagai siklus yang tak pernah habis. Ia muncul, menghilang, lalu kembali, seolah hidup selalu menyodorkan babak yang mirip dengan sebelumnya, dengan alur dan tujuan yang bervariatif.

Pembuatan EP ini ditandai oleh kembalinya Dimas (gitar) ke Indonesia setelah menjalani dua tahun studi. Bak gayung bersambut, dari kota yang berbeda-beda; Mirza (vokal), Guyub (bass), Fikra (gitar), dan Eja (drum) saling mengoper ide dan materi demo lewat pesan singkat. Proses kreatif kemudian mengalir dengan tidak tergesa dan jujur, menghasilkan empat lagu yang memotret cinta dalam bentuk yang paling manusia: berulang, membingungkan, tetapi dinanti.
“Romance Reigns” kemudian direkam di Catpaws Lab oleh Dhandy (Sandstorm Of Youth) sebagai producer dan Yoga (Marsmolys, Sandstorm Of Youth) sebagai co-producer. Meski workshop dilakukan secara daring, namun semua rekaman kembali dilakukan di Yogyakarta, yang terasa seperti pulang kampung.

Suara Baru, Jiwa yang Sama “Romance Reigns” dibuat bukan untuk mengupayakan The Bunbury versi baru, namun seperti pakaian lama yang kini jatuh lebih pas pada tubuh mereka. Gitar yang renyah, ritme yang berlari kecil namun stabil, hingga atmosfer post-punk revival namun sedikit melankolis; semuanya masih ada. Namun, kali ini mereka muncul lebih matang, seolah sakit hati bukan menjadi momok, namun justru mengamati dengan lekat dan membiarkannya bicara jujur. Tidak lagi soal menang atau kalah, tetapi soal siapa yang bertahan untuk tetap merasa.


