Cherrypop Fest adalah oase.
Bagi saya, cah Kediri, perjalanan menuju Jogja jauh (bold, italic, underline) lebih terjangkau daripada Jakarta. Saya cuma butuh 4 jam perjalanan, mencari motel murah-meriah, dan bersukaria di lantai dansa.
Simpel. Pas. Thanks.
Bandingkan dengan Jakarta. Meski biaya penginapan dan jajan 11-12 (Iya, Jogja mahal-mahal juga, euy!), saya harus merogoh kocek jauh lebih dalam dan perjalanan lebih panjang (9-12 jam!). Belum lagi vibes kotanya. Nang Jakarta mbendino disuguhi macet ambe klakson eg! Yo ra mampu mas’e.
Maka, ketika Cherrypop Fest diadakan di tahun 2022, saya langsung jadi simpatisannya. Gak pernah absen—kecuali tahun lalu karena ada agenda penting lain.
Atas dasar itu, saya ingin mengusulkan beberapa musisi Jatim sebagai line up Cherrypop Fest. Kalau gak tahun ini, ya tahun depan, atau kapan lah. Sembarang. Bebas. Pokoknya satu: sayang banget kalo festival satu itu gak segera memainkan wonk-wonk ini.
Cekidot!
1. Holigrey (Mojokerto)
Simply said: best band in Jatim today. Udah. Reggae kreasi mereka terlalu sayang buat dilewatkan. Bayangkan amalgamasi sastra jalanan, isian meruang, dan musik yoman dalam satu tenggakan.
Sila dengarkan “1x” atau “Tidak Apa-apa untuk Tidak Melakukan Apa-apa”. You’ll know what I’m talking about.
2. Tani Maju (Malang)
Cherrypop Fest gemar menghadirkan band-band mitos macam Melanholic Bitch, Risky Summerbee & the Honeythief, hingga Jenny. Maka sudah saatnya mereka mengundang unit orkes progresif nan legendaris asal Malang ini. Dalam hemat saya, Tani Maju adalah band yang komplit. The greatest Indo band yang liriknya cantik, musiknya sulit, tur attitude-nya antik. Dengarkan “C70” kalau mau buktinya.
Intinya: belum ke Malang kalau belum nonton Tani Maju.
3. Diossoulo (Kediri)
Ingat namanya: Pradio Manggara Putra. Bocah ajaib nan jenius asal bumi dahana, Kediri. Diossoulo adalah proyek tunggal mastermind dari IGMO, kawula rock kota tersebut. Dalam hal musikal, Diossoulo menawarkan semacam dualitas: lebih progresif dari bandnya, tapi di beberapa kesempatan juga lebih soft. Sila dengarkan EP Portrait of Cloistered Space, baru rilis Mei 2026 kemarin.
4. Eastcape (Blitar/Malang)
Eastcape masih jadi garda depan #WongKalahan hari ini. Gak usah peduli sama cercaan abang-abangan linimasa X, itu cuma pendapat elitis yang berpikir belantika berpusat pada cuitannya. Kan faktane: kene kabeh wong kalahan. Ya tho?
Jadi, tak ada alasan untuk tidak meneriakkan “… And I hooooope, you found meeeeee” di Yayapa Stage.
5. Selokan Belakang (Jember)
Saya jarang menemukan band dengan lagu self-deprecating macam “Jamet Jember Utara”. Via langgam ini, unit alt-rock tersebut memeluk erat ke-jamet-an mereka—term yang muncul karena bias Jakarta (Jakarta-gaze), sembari menertawakan kealpaan dunia yang gini-gini aja. Menarik kalau mereka dibopong ke Jogja.
Tentang Penulis

Randy Levin Virgiawan, akrab disapa KMPL adalah pendengar musik asal kota Kediri. Sehari-hari ia bekerja sebagai praktisi musik sembari menulis berbagai hal: esai, puisi, hingga lirik lagu. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di TEMPO, The Jakarta Post, Whiteboardjournal, Sudutkantin, dan banyak lainnya.
Buku puisi pertamanya, pelarian-pelarian terbit pada bulan Mei 2026. Naskahnya tentang Tani Maju dimuat pada buku Ritmekota: Kumpulan Tulisan Musik dari Kota Malang yang diterbitkan Pelangi Sastra pada tahun 2019.
Jejaring sosial: @randy_kempel


