Wawancara Eksklusif FILM.: Dari FTV Jam 2 Siang Sampai Album Manuskrip

Memasuki paruh kedua tahun 2026, rilisan album lokal sukses mencuri perhatian saya. Sebagai generasi milenial “angkatan tengah”, musik Indonesia era 2000-an punya tempat sakral yang menemani pasang-surut perjalanan hidup saya hingga hari ini.

Belakangan, linimasa X dihebohkan oleh perbincangan tentang sebuah band baru bernama FILM.. Banyak yang bilang, musik mereka adalah mesin waktu yang siap membawa kita bernostalgia ke zaman keemasan MTV dan radio, berkat balutan distorsi pop-rock alternatif khas era 2000-an.

Rasa penasaran membawa saya mengulik karya mereka, hingga akhirnya FILM resmi melepas album perdana bertajuk Manuskrip pada Juli lalu. Tanpa basa-basi, saya langsung mengontak mereka untuk mengobrol lebih dalam dan menuntaskan rasa kepo ini.

Simak keseruan perbincangan hangat saya bersama FILM. melalui layar Google Meet beberapa waktu lalu berikut ini.



Langsung aja, seperti biasa untuk awalan, boleh kenalin masing-masing personil dan posisinya?

Pandu: Gue Pandu, vokal.

Johanes Abi: Gue Johanes Abi, gitar.

Wawan: Gue Wawan, bassist.

Dimas: Gue Dimas, drummer.

Untuk teman-teman berempat ini, ada proyek lain di band lain atau soloist gitu selain di FILM.?

Wawan: Dengan ini hitungannya udah komit di FILM. kali ya. Karena proyek musik yang ibaratnya lebih gede itu yang di FILM., bisa dibilang gitu sih, Mas. Sebenarnya kalau yang lain ada proyek masing-masing, cuma ya di masa lalu. Kalau sekarang sih ya fokus di sini.

Oke, setelah gue dengerin selama sebulan ini, untuk album Manuskrip ini Alhamdulillah banyak yang nyantol. First impression gue pas dengerin album ini, musik yang kalian tawarkan tuh bikin gua flashback ke era 2000-an. Emang influence kalian dalam membentuk musik di Manuskrip ini siapa aja sih?

Wawan: Sebenarnya, kenapa kita melekat dengan era 2000-an itu tidak dipaksa. Maksudnya, kita tidak pernah duduk bareng dan bilang, “Eh, kita bikin band yang rasanya 2000-an ya.” Itu gak pernah. Cuma memang pas lagi workshop, entah kenapa secara natural keluarannya seperti itu. Ya mungkin karena memang dasarnya kayak gini. Walaupun menurut kami pembawaannya tetap fresh. Tapi kita gak ada limitasi kalau kedepannya harus seperti ini terus. Jadi menurut gue, ini adalah hasil kurang lebih 2,5 tahun terakhir yang paling natural dan organik. Yang secara personal, kebetulan masing-masing emang suka juga dengan musik di era tersebut.

Kalau boleh tahu, influence secara pribadi dari masing-masing personil siapa aja? Band atau musisi gitu?

Wawan: Kalau gue pribadi, band 2000-an Indo itu Dewa 19. Album Bintang Lima sama Cintailah Cinta (era 2000-an) itu gue banget.

Pandu: Kalau gue sebenarnya sama kayak Wawa, nomor satu masih Dewa. Cuma nomor dua kayaknya Peterpan / NOAH. Perubahan dari Peterpan ke NOAH itu menurut gue upgrade banget.

Abi: Kalau gue, Padi dan GIGI sebenarnya, tapi dari dua sisi yang berbeda. Kalau Padi lebih ke kreatifnya (terutama Mas Piyu), kalau GIGI dari sisi teknikalitas dan produksinya. Apalagi mereka juga four-piece band, jadi gue suka banget.

Dimas: Kalau gua mungkin D’Masiv ya. Soalnya D’Masiv gua ngerasa secara penyampaiannya lumayan frontal dan melodi-melodi yang diambil lumayan everlasting, jadi pas denger kerasa nostalgianya.

Oke. Kalau mengusung Pop-Indo 2000-an, berarti kan segmennya lebih ke Milenial ya. Untuk FILM. sendiri, target pendengar kalian sebenarnya siapa?

Pandu: Sebenarnya pastinya kita membasiskan pembuatan lagu-lagu di FILM. itu atas dasar kita berempat dulu—dalam artian, kita suka gak sama lagunya. Itu nomor satu. Kenapa orang-orang seumuran kami (Milenial) jauh lebih gampang nyangkut, karena lagu-lagu 2000-an sangat melekat secara personal buat kita. Cuma harapan gue, lagu-lagu FILM. bisa nyampe ke anak-anak Gen Z atau yang lebih muda lagi dengan perasaan yang sama seperti saat kita dengerin lagu 2000-an dulu. Jadi harapannya FILM. bisa everlasting juga.

Wawan: Intinya, kita tumbuh besar dengan band-band legenda 90-an dan 2000-an. Semoga kita setidaknya bisa punya peran yang serupa untuk generasi yang lebih muda, jadi mereka bisa ngerasain apa yang dulu kita rasain terhadap band-band tersebut.

Pertama kali gua denger, lagu kalian tuh ngingetin gua sama soundtrack FTV jam 2 siang pas pulang sekolah. Apabila lagu kalian dari album Manuskrip dijadikan soundtrack FTV, kira-kira judul FTV-nya apa nih?

Wawan: Diana, sih.

Pandu:Kalau gue kayaknya Cinta Diana atau Diana. Kayak FTV jaman dulu kan ada Cinta Fitri, Cinta Diana, haha.

DImas: Kita kayaknya jarang ingat judul FTV ya, paling nama orang kayak Cinta Diana.

Pandu: Atau Tuyul dan Mbak Yul, hehe.

Wawan: Tapi kalau secara vibe, kayaknya lebih masuk ke FTV remaja atau SMA gitu, yang ada harunya. Judulnya mungkin pakai nama sosok gitu.

Album Manuskrip ini kan udah 1 bulan rilis. Gimana respon dari para pendengar?

Pandu: Responnya Alhamdulillah banyak, baik yang positif maupun negatif. Justru gue seneng ada yang respon negatif, karena artinya mereka gak cuma sebatas dengerin melintas doang, tapi beneran dengerin dan menilai secara subjektif.

Pandu: Untuk album pertama yang kita rintis sendiri, ini jauh di atas ekspektasi awal. Kita bersyukur banget. Semoga hadirnya album ini bisa jadi jembatan buat FILM. sebagai band baru supaya makin banyak yang tertarik dan kita bisa lebih sering manggung.

Johanes Abi: Ada juga respon yang gak kita expect. Misalnya lagu Bandara, ternyata ada orang yang beneran lagi di bandara terus bikin Story pakai lagu itu. Terus ada juga pas kita manggung, ada yang bilang dia lagi patah hati dan ngerasa lagu Luka pas banget sama apa yang dia rasain. Mereka kerasa kayak “ditemenin” sama lagu-lagu kita. Untuk band baru, respon kayak gitu udah berharga banget.

Sekarang kan banyak musisi yang ngincer pasar TikTok ya, dalam artian lagu mereka dipakai buat content biar makin naik. Kalian ada strategi ke arah sana gak?

Pandu: Strategi di media sosial pasti ada. Di fase sekarang yang penting kita konsisten post dulu karena semuanya masih trial and error. Sosmed ini kita mulai dari nol banget dan Alhamdulillah sejauh ini tumbuhnya organik. Cuma mungkin emang belum ada yang viral/nyangkut banget di TikTok aja. Kita masih mencoba dengan cara-cara dan tren yang ada sekarang.

Kalau gua liat cover album kalian, itu kan kayak kliping majalah zaman dulu. Apakah memang konsepnya sengaja dibuat gitu biar terkesan era 2000-an?

Johanes Abi: Lebih ke konsep “naskah” sih. Karena nama album kita Manuskrip, bahasa gampangnya kan naskah. Biasanya kalau di industri FILM., naskah itu dikasih markah, memo, klip, atau dicoret stabilo. Cover album dan booklet lirik kita dirancang seperti folder naskah cerita dari album Manuskrip ini.

Menarik. Kalau ada yang tanya, kalian ini sebenarnya musik atau film sih?

Johanes Abi : Musik adalah sarana utama yang kita pilih untuk menyampaikan karya. Tapi nama “FILM.” sendiri dipilih karena film juga merupakan salah satu media penyampaian karya. Jadi gak cuma sebatas audio, mimpi kita kedepannya karya ini bisa dituangkan lewat music video, berkolaborasi dengan production house, atau lagu-lagu kita jadi soundtrack FILM..

Wawan: Secara harfiah kita band musik, tapi pendekatan kita adalah storytelling. Kita juga mencoba mempertahankan brand identity yang bernuansa analog/klasik.

Karena musik kalian bernuansa Pop-Indo 2000-an, ada rencana buat rilis format kaset pita atau CD gak?

Johanes Abi: Sebenarnya ada dan udah kepikiran! Kita pengen rilis fisik kayak kaset dan CD untuk memperkuat konsep FILM. ini. Pelaksanaannya mungkin nanti saat showcase atau panggung besar lainnya. Sekarang lagi proses, karena nyari vendor fisik zaman dulu ternyata lumayan menantang secara teknis. Dalam waktu dekat (mungkin bulan depan), kita juga mau rilis merchandise dulu.

Tadi sempat nyebut soal showcase, ada rencana kapan?

Johanes Abi: Yang paling dekat kita mau bikin Album Celebration dulu bulan depan. Kita pengen bawain album ini secara full set dan ngajak teman-teman musisi lain buat tampil bareng. Kalau showcase sendiri rencananya akan jadi acara terpisah yang punya experience visual dan pertunjukan yang lebih utuh.

Pas gua dengerin album ini, selain influence yang disebutkan tadi, gua juga ngerasa ada vibe Sheila on 7, J-Rocks, sampai Rocket Rockers (dari karakter vokal). Ada pengaruh dari mereka gak? Dan apa album favorit kalian dari mereka?

Pandu: Soal Rocket Rockers, bukan cuma Mas aja yang bilang vokal gue mirip. Tapi jujur gue gak sedengerin itu, mungkin emang karakter timbre suara dan pemilihan nadanya aja yang kebetulan mirip, haha.

Wawan: Kalau dari tiga nama itu, gue personal paling nempel sama Sheila on 7 (tiga album pertama). Tapi terfavorit Kisah Klasik untuk Masa Depan.

Pandu: Kalo J-Rocks, gue belum pernah dengerin sealbum gitu. Tapi gue juga banyak dengerin musik Jepang/J-Rock/City Pop kaya L’Arc~en~Ciel, Sakanaction,Tokyo Ska Paradise Orchestra, Sheena Ringo, Utada Hikaru, sampai Tatsuro Yamashita.

Boleh minta satu kalimat penutup atau harapan dari teman-teman FILM.?

Wawan: Harapan kita simpel, semoga musik FILM. bisa berjumpa dan menemani lebih banyak pendengar lagi kedepannya.

Album Manuskrip milik FILM. kini sudah dapat didengarkan di berbagai Digital Streaming Platform (DSP). Mampukah album debut ini mengamankan posisi sebagai salah satu album lokal terbaik di tahun 2026?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles