Long Live the Crowdsurfer!

Search
Close this search box.

Jogjarockarta 2025: Ugly Kid Joe Yang Tidak Ugly

Oleh: Balma Bahira Adzkia

Kalau boleh jujur, tidak pernah terpikirkan sekali pun di kehidupan yang singkat ini bakal menonton band rock, metal, hardcore, you name it lah secara live. Merupakan pengalaman baru bisa menghadirkan kelima indraku di hadapan panggung megah Jogjarockarta Festival 2025 untuk pertama kali dan di edisi terakhirnya. Lumayan, lelah yang kubawa pulang bukan karena bernyanyi bersama melainkan aktif mengobservasi sekitar termasuk penampilan Ugly Kid Joe, unit alt rock asal California yang menjadi salah satu headliner festival rock internasional kebanggaan Yogyakarta ini.

Berada di barisan tengah membuat pandanganku terbagi. Sesekali melihat layar besar untuk mengenali wajah Whitfield Crane (vokal), Klaus Eichstadt (gitar), Cordell Crockett (bass), Dave Fortman (gitar), dan Zac Morris (drum) yang disorot bergantian. Kemudian menonton keseluruhan panggung beserta set lighting yang entah kenapa malam itu terangnya tidak biasa–terasa sangat mencolok mata, lalu mengalihkan pandangan ke penonton di sekitarku.

“Sangat ramah dan kharismatik,” pikirku setelah mendengar Crane menyapa penonton. Ditambah ia selalu memastikan kami untuk berbahagia, “Are you all happy?” tanyanya dan disambut teriakan YES! yang menggema. Seketika aku merasa bersyukur sebab bisa memahami setiap kata yang diucapkan sang vokalis tanpa takarir. Namun, ada satu yang sedikit membuatku heran. Sepertinya ia sangat suka meminta penonton untuk mengangkat tangan dan memberikan tepukan setiap permulaan lagu. Ia yang mengenakan kaos hitam bergambar foto masa kecil mendiang Ozzy Osbourne pun mencoba berterima kasih dengan berbahasa Indonesia yang kemudian ia gubah dengan tambahan scream dan lengkingan di akhir sehingga terdengar seperti, “Trrrima kasssiiiaahh!”

Terbang jauh-jauh setelah menyelesaikan set panggung Ugly Kid Joe di Wales, Britania Raya, energi yang besar menerpa crowd di Stadion Kridosono malam itu. Mereka membawakan 18 lagu di Jogjarockarta. Dua di antaranya mengcover lagu “Paranoid” dari Black Sabbath yang di-medley dengan lagu mereka berjudul “VIP” dan dilanjutkan dengan “Ace of Spades” milik Motorhead.

Selaku penonton yang belum pernah mengulik lebih jauh tentang grup musik yang terbentuk sejak 1989 ini, aku mulai bisa mengikuti vibe di lagu “Panhandlin’ Prince”. Terdengar playful di telingaku, terlebih setelahnya membawakan “C.U.S.T” yang enerjik dan riff yang cepat. Atmosfer membara sampai di puncaknya ketika “So Damn Cool” dimainkan dan diturunkan tensinya dengan melodi emosional “Cats in the Cradle”. Beribu sayang aku sudah bergegas pulang sebelum sempat mendengarkan lagu yang membuatku tertarik pada band ini sejak mencoba mendengarkan lagunya via YouTube sesaat sebelum berangkat. “Everything About You”, lagu pamungkas yang menjadi hit mereka di seluruh dunia disusun di akhir set. Kabar baiknya, aku membawa oleh-oleh satu lagu berjudul “I’m Alright” yang mungkin akan menjadi favoritku selanjutnya.

Selain pertunjukan panjang itu, yang menarik di mataku justru kerumunan penonton yang meliputi berbagai lapisan generasi usia. Sekilas saja aku mengerti sebagian dari mereka tumbuh bersama karya-karya UKJ dan terpana melihat musisi kebanggaannya beraksi di depan mata. Sebagiannya lagi mungkin menonton dalam rangka eksplorasi atau “membayar” rasa sedih karena sang bintang utama: Helloween batal tampil sebab kondisi kesehatan vokalisnya, Michael Kiske.

Posisi berdiriku cukup strategis untuk mengamati crowd. Samping kiriku adalah seorang pemuda berkacamata yang dari wajah dan cara berpakaiannya berada di usia 25 ke atas. Meskipun grup ini telah terbentuk mungkin sebelum ia lahir, sepertinya ia bukan pendengar baru kemarin sore. Sebab caranya menikmati pertunjukan seperti orang yang sudah familiar dengan permainan gitar Klaus Eichstadt dan ritme drum Morris, namun tampaknya bukan pendengar aktif sebab tidak mengikuti setiap larik yang Crane lontarkan.

Di kananku, ada dua sekawan bapak-bapak. Menurut analisisku yang sembarangan, kurasa mereka hidup di zaman yang sama saat UKJ berjaya, yang mana kemungkinan besar mereka “anak-anak skena” pada masanya, finansialnya berada, dan hidupnya penuh privilege. Salah satunya bergaya kasual dengan aura korporat yang kuat dan berambut panjang yang telah beruban. Sesekali di lagu yang ia sukai, smartphone lipatnya (yang kurasa itu adalah Samsung Z-Fold series) diangkat untuk merekam momen band yang tampil untuk pertama kali di Yogyakarta itu. Entah kenapa seketika aku jadi minder sendiri.

Sedangkan di depanku, ada pasangan suami istri yang kutaksir masing-masingnya berusia lebih dari 50-an tahun. Dari gesturnya, aku bisa merasakan kesenangan yang membuncah dari sang Istri. Terlihat sorot berbinar dari balik kacamata berbingkai hitamnya. Ia melompat mengikuti irama, ikut mengangkat tangan tinggi-tinggi, dan sesekali melihat ke arah suami yang berjaga di belakangnya seakan-akan berkata, “Ini seru banget, ya kan! Kita boleh agak lebih maju, ga?”. Agak serong di depan kanan, aku juga menangkap  kegirangan seorang ibu-ibu berjilbab dengan senyum lebar dan kefasihannya bernyanyi yang perlu diapresiasi. “Mungkin seperti itulah gambaranku di masa depan kalau menonton konser artis favorit,” gumamku sambil nyengir–merasa ide itu lucu di kepala sendiri.

Selepas acara, aku mendapati teman-temanku ternyata juga menonton band rock legendaris ini. Agak heran dengan selera mereka pada band yang masa jayanya sudah lewat dan sepertinya jarang dibicarakan oleh orang seumuranku. Akhirnya kutanya salah satu dari mereka tentang permulaannya mengenal karya Crane dan kawan-kawan. 

“Waktu itu mereka pernah ngover lagu Master of Puppets dari Metallica. Aku cari tahu bandnya dan nyoba dengerin beberapa lagunya yang teratas. Pas aku dengerin, menurutku gaya vocalnya sedikit mirip gitu, jadi suka deh,” ungkapnya. Tak lupa aku menanyakan bagaimana perasaannya setelah menonton Ugly Kid Joe. “Senanggggg sekali bisa dengerin pakde-pakde tampan itu secara live. Walaupun mungkin selera anak Gen Z kayak aku ini terlalu tua ya…,” tambahnya sambil terkekeh.

Menurutku, Ugly Kid Joe tidaklah ugly seperti namanya; secara skill justru sangat atraktif! Dengan karakteristik musiknya yang bervariasi–kadang hard rock, glam rock, sesekali metal dan alternative dikatakan mewah untuk ukuran band old-school yang populer di tahun 90an itu. Meskipun perspektif karya yang dibawakan menyentuh ruang-ruang personal, cara membungkusnya terasa rumit bagi orang-orang yang memang tidak familiar dengan genre dan pembawaan yang cenderung sangat Amerika dan ekspresif ala Californian boys.

Jika dulu kaset UKJ membanjiri record store dan karyanya didengarkan oleh niche yang segmented, di masa digital seperti sekarang rasanya karyanya masih sangat potensial untuk merebak lagi di belantika algoritma. Sisi playful dari Ugly Kid Joe mungkin cocok untuk menjadi backsound video FYP ala konten a day in my life atau outfit check. Entah siapa yang akan memulai, aku hanya memberi saran saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles