Long Live the Crowdsurfer!

Search
Close this search box.

Festival Musik untuk Semua: Mewujudkan Aksesibilitas dalam Industri Hiburan

oleh Nihan Anindyaputra Lanisy
(Dosen Program Studi Pariwisata, Universitas Terbuka)

Festival musik telah menjadi salah satu daya tarik wisata yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir. Namun, pertanyaan penting yang jarang diajukan adalah apakah semua orang benar-benar dapat menikmati pengalaman festival musik? Pariwisata aksesibel (accessible tourism) menawarkan perspektif baru dalam memastikan bahwa festival musik tidak hanya untuk segelintir orang, tetapi untuk semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas, lansia, dan keluarga dengan anak kecil.

Pariwisata aksesibel didefinisikan sebagai “sebuah bentuk pariwisata yang melibatkan proses kolaboratif antara pemangku kepentingan yang memungkinkan orang dengan kebutuhan akses (termasuk dimensi mobilitas, penglihatan, pendengaran, dan kognitif) untuk berfungsi secara mandiri dengan kesetaraan dan martabat melalui penyediaan produk, layanan, dan lingkungan pariwisata yang dirancang secara universal” (Buhalis & Darcy, 2011). Konsep ini tidak hanya berfokus pada penghilangan hambatan fisik, tetapi juga mencakup aspek informasi, komunikasi, sikap, dan teknologi yang memungkinkan setiap orang menikmati pengalaman wisata tanpa diskriminasi.

Festival musik memiliki hubungan erat dengan pariwisata karena kemampuannya menarik pengunjung dari berbagai wilayah, bahkan mancanegara. Penelitian menunjukkan bahwa festival musik tidak hanya berkontribusi pada industri pariwisata, tetapi juga pada pembangunan ekonomi lokal dan regional (Chang et al., 2022). Festival seperti Primavera Sound di Barcelona telah menjadi bagian dari itinerary wisata internasional, menciptakan pengalaman autentik yang menghubungkan wisatawan dengan kehidupan sehari-hari kota. Di Indonesia sendiri, festival musik seperti Soora Music Festival 2024 di Bandung dan Tau-Tau Fest telah mulai menunjukkan kesadaran terhadap pentingnya aksesibilitas dalam industri hiburan (Fiona, 2024; Hati & Meltareza, 2025). Namun, potensi ekonomi dan sosial ini hanya dapat dimaksimalkan jika festival dapat diakses oleh semua segmen masyarakat.

Aksesibilitas untuk penyandang disabilitas di festival musik masih menjadi tantangan besar, baik di Indonesia maupun di tingkat global. Studi di berbagai festival musik di Eropa menemukan bahwa sebagian besar penyelenggara hanya memperhatikan disabilitas mobilitas dengan menyediakan jalur kursi roda dan toilet aksesibel, sementara kebutuhan lain seperti gangguan penglihatan, pendengaran, dan neurodiversitas sering diabaikan (Bossey, 2020). Kondisi serupa juga terjadi di Indonesia, seperti yang ditemukan dalam penelitian terhadap Tau-Tau Fest yang menunjukkan bahwa meskipun beberapa fasilitas sudah tersedia, masih terdapat aspek yang memerlukan penyesuaian seperti area menonton, jalur antrian, papan petunjuk yang aksesibel, dan pelatihan staf tentang kesadaran disabilitas (Fiona et al., 2024). Penelitian tentang festival musik di Finlandia juga mengungkapkan bahwa peserta dengan disabilitas sering mengalami sikap ableism dari petugas keamanan dan layanan pelanggan, termasuk kurangnya pemahaman, ketidakpercayaan, dan bahkan sikap bermusuhan (Kinnunen & Honkanen, 2025). Oleh karena itu, diperlukan pelatihan khusus bagi penyelenggara dan karyawan festival tentang isu-isu disabilitas, serta melibatkan penyandang disabilitas dalam tim penyelenggara.

Untuk lansia dan keluarga dengan anak kecil, kebutuhan aksesibilitas memiliki dimensi yang berbeda namun sama pentingnya. Fasilitas yang ramah lansia meliputi area tempat duduk yang memadai, jalur yang tidak terlalu jauh atau melelahkan, serta informasi yang jelas dan mudah dibaca dengan ukuran font besar. Sementara itu, keluarga dengan anak kecil memerlukan area khusus keluarga/anak, fasilitas ganti popok, menu bergambar di area makanan, dan harga khusus untuk anak-anak (Revelland Project, 2025). Area tenang (quiet/chill areas) juga menjadi kebutuhan penting bagi berbagai kelompok, termasuk orang dengan autisme, penyakit kronis, maupun lansia yang membutuhkan istirahat di tengah keramaian festival. Di Indonesia, upaya untuk menciptakan festival yang lebih inklusif juga mulai terlihat, seperti pada Bunyi Festival 2026 di Bandung yang mengusung tema inklusivitas dengan menghadirkan panggung bagi anak berkebutuhan khusus, menunjukkan bahwa seni dapat menjadi medium perubahan sosial yang kuat.

Studi kasus dari berbagai festival menunjukkan bahwa perbaikan aksesibilitas dapat dicapai secara bertahap dan terukur. Lollapalooza Chile menunjukkan peningkatan signifikan dalam persepsi aksesibilitas dari tahun 2023 ke 2024 (Vilchez et al., 2025), sementara Soora Music Festival 2024 di Bandung memberikan contoh baik dalam penerapan aksesibilitas dengan menyediakan fasilitas seperti jalur khusus, tempat duduk strategis, serta venue maps yang informatif (Hati & Meltareza, 2025). Namun, tantangan tetap ada. Observasi terhadap Cherrypop Festival 2025 mengungkapkan bahwa informasi mengenai fasilitas aksesibilitas masih kurang terdengar, seperti “bisikan pelan di tengah musik yang menggelegar” (Sudut Kantin, 2025). Kunci keberhasilannya terletak pada pelibatan aktif penyandang disabilitas dalam proses perencanaan (co-design), komunikasi yang aksesibel, dan adopsi standar yang dapat diverifikasi untuk acara musik berskala besar.

Mewujudkan festival musik yang aksesibel bukan hanya tanggung jawab moral, tetapi juga peluang ekonomi. Dengan populasi global yang semakin menua dan kesadaran akan hak-hak disabilitas yang meningkat, pasar pariwisata aksesibel terus berkembang. Di Indonesia, dengan jumlah penyandang disabilitas mencapai 28 juta jiwa, potensi pasar ini sangat besar dan belum tergarap optimal. Festival musik yang inklusif tidak hanya memperluas basis pengunjung, tetapi juga menciptakan citra positif yang berkelanjutan. Sudah saatnya industri festival musik di Indonesia mengadopsi prinsip-prinsip pariwisata aksesibel secara konsisten, memastikan bahwa musik, sebagai bahasa universal, benar-benar dapat dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali.

Referensi:

Bossey, A. (2020). Accessibility all areas? UK live music industry perceptions of current practice and information and communication technology improvements to accessibility for music festival attendees who are Deaf or disabled. International Journal of Event and Festival Management, 11(1), 6-25.

Buhalis, D., & Darcy, S. (2011). Accessible tourism: Concepts and issues. Channel View Publications.

Fiona et al. (2024). Penyediaan Akses bagi Penyandang Disabilitas pada Penyelenggaraan Tau-Tau Fest. Journal of Event, Travel and Tour Management, Politeknik Pariwisata NHI Bandung.

Kinnunen, M. & Honkanen, A. (2025). Music festival employees’ ableism as experienced by participants with disabilities. Annals of Leisure Research

Vílchez, C.A., et al. (2025). Evaluation of accessibility at Lollapalooza Chile (2023–2024): A quantitative analysis of the experience of people with disabilities attending the festival. Relatos Journal.

Revelland Project. (2025). Final report: Making live music performance more accessible for disabled people.

Hati, J.P.S. & Meltareza, R. (2025). Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Dalam Konser Musik: Studi Kasus Soora Music Festival 2024. Journal of Destination and Cultural Studies, 1(1).

Sudut Kantin Project. (2025). Antara panggung meriah dan ruang yang tak terlihat di Cherrypop 2025. https://sudutkantin.com(opens in new tab)

Chang, J.J., et al. (2022). Exploring the driving factors of urban music festival tourism and service development strategies using the modified SIA-NRM approach. Sustainability, 14(12), 7498.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles