Long Live the Crowdsurfer!

Search
Close this search box.

"Insomnia Song" Gabriela Fernandez, Koneksi Jogja-Pamulang dengan Rhesa Aditya “Endah n Rhesa”

Tak lama setelah hari Kesehatan mental diperingati, Gabriela merilis official video clip dari lagunya yang berjudul “Insomnia Song”, single terbarunya yang dirilis di awal terjadinya pandemi ini.


Menurut Gabriella, lagu ini tidak hanya bicara tentang insomnia saja. Lagu ini menceritakan tentang pikiran-pikiran yang terlalu banyak (overthinking), rasa bersalah, kekhawatiran dan kecemasan akan masa depan, yang sebenarnya bisa dilatih dengan mindfulness atau berlatih disini dan kini. Namun dalam lagu ini, Gabriela ingin mengajak semua yang mengalami hal yang sama, untuk menertawakan saja dahulu keadaan mentalnya saat ini. Dengan melakukan hal itu, kita dapat menerima kondisi kita saat ini, atau dapat mengatakan, “it’s okay not to be okay”.


Yang spesial dari video clip ini adalah kehadiran Rhesa Aditya, bassist dari Endah n Rhesa, sebagai idola Gabriela dan inspirasinya dalam pergerakan musik indie. Baginya, kolaborasi ini menjadi seperti sebuah impian yang menjadi nyata.


“Ketika mas Rhesa menawarkan untuk mengisi bass di lagu ini, dan bersedia mengerjakan mixing mastering untuk lagu ini, aku senang sekali. Rasanya campur aduk, tidak tahu bagaimana lagi harus berterimakasih. Mas Rhesa dan Mba Endah orang-orang baik, mereka nggak segan mendukung musisi-musisi muda dengan berbagai cara,” ungkap Gabriela.


Yang dimaksudnya pula adalah bagaimana kedua idolanya ini mendirikan EarHouse sebagai komunitas yang hidup dan aktif di Pamulang, yang harapannya, dapat dilakukannya juga melalui Akarupa yang sedang dirintisnya. Ingin juga menyampaikan pesan bahwa berkarya tidak harus berhenti karena pandemi, video ini merupakan proyek jarak jauh antara Jogja – Pamulang, di mana semua dikerjakan dari rumah, dengan peralatan yang sederhana.


Selain itu, apabila video lirik sebelumnya menunjukkan proses pembuatan artwork visual oleh Gabriela, video kali ini mengangkat Raditya “Somay” Darmo, musisi dari Yogyakarta, yang membuat seluruh bunyi perkusi dari lagu ini. Uniknya, Raditya menggunakan barang-barang di sekitar kita untuk membuat bunyi-bunyian.

Misalnya, menggesekkan rantai untuk membuat suara jangkrik, menggunakan wadah kuas untuk menirukan suara tokek, bahkan menggunakan kaleng bekas, sekop pasir, parutan roti, wadah tembakau, tempat dupa, bahkan charger bekas sebagai sumber bebunyian perkusinya. Ia menyebutnya “Rongsok”, karena kebanyakan menggunakan barang-barang bekas. Kreativitas ini dimunculkan dalam official video ini, terinspirasi oleh musisi Jacob Collier. Pembuatan video ini merupakan karya bersama dari Akarupa Production dan Gerry Neko, yang merupakan videografer dari Yogyakarta. Setelah berdiskusi bersama, saling bercerita tentang makna lagu dan beberapa filosofi di baliknya, jadilah video ini, dengan berbagai keunikannya.


Pesan Gabriela untuk semua yang menikmati video ini, terutama di masa-masa ini: “Untuk kita yang tidak bisa tidur, semoga bisa segera mendapat tidur yang cukup. Untuk kita yang penuh pikiran dan kekhawatiran, mari sama-sama kita coba kurangi. Ada banyak hal yang dapat ditertawakan di masa-masa seperti ini (termasuk diri yang sedang tak bisa tidur), demi menjaga kesehatan mental agar tetap bahagia, sambil terus menjaga diri dan bersikap waspada, secukupnya.”


Sekian, selamat mencoba tidur malam ini!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles