Long Live the Crowdsurfer!

Search
Close this search box.

Jogjarockarta 2025: Lagu “Selamat Ulang Tahun” Mereduksi Keningratan Jamrud yang Sebenarnya

Oleh: Balma Bahira Adzkia

Setidaknya ada dua lagu fenomenal yang dapat memeriahkan momen perayaan ulang tahun. Versi universal ialah lagu “Happy Birthday” yang konon telah diciptakan sejak tahun 1893 oleh Mildred Hill dan digubah oleh Patty Hill. Versi lokal tentu saja lagu “Selamat Ulang Tahun” milik Jamrud yang kerap menjadi latar musik spesial birthday treatment di resto, kafe, hingga Instastory personal. Namun, lagu kedua lebih terasa personal buatku. Selain karena asli Indonesia dan doa-doa yang dipanjatkan jelas isinya, mungkin juga karena tahun rilisnya lagu ini bersamaan dengan tahun kelahiranku sehingga rasanya seperti teman sebaya (yang tidak pernah kenal dekat).

Malam itu, akhirnya aku dapat berjumpa dengan “teman sebaya” tadi secara langsung di hari pertama Jogjarockarta 2025. Tidak dibawakan oleh orkes musik, melainkan personil asli Jamrud dengan formasi Mochamad Irwan (Gitar), Ricky Teddy (Bass), Krisyanto (Vocal), Aziz MS (Gitar), dan Danby Rachman (Drum). Menonton bapak-bapak ini di panggung rasanya agak aneh sebab di imajinasiku lagu-lagu yang kudengar tadi telah berada jauh di masa lalu. Mau tidak mau kini aku berdiri bersama para Jammers yang usianya pasti sebaya om dan tanteku.

Jujur saja selain dari ulang tahun tadi, aku hanya mengerti Jamrud lewat lagu-lagu hitsnya seperti “Pelangi di Matamu” dan “Surti Tejo”. Sehingga jelas alasan mengapa aku diam saja sepanjang setlist kecuali tiga lagu terakhir, itu pun tidak fasih-fasih amat. Ternyata karya-karya unit rock asal Cimahi itu sangat berseberangan kutub dengan apa yang biasa didengarkan orang-orang pada zamannya. Tentu saja suara mendayu Doel Sumbang jauh lebih bisa diterima khalayak daripada erangan Jamrud, padahal sama-sama dari Jawa Barat. Sepertinya aku tahu alasannya: wajah yang dingin, sangar, dan lirik yang eksplisit agaknya menentang keumuman norma masyarakat di masa itu tentang apa yang layak disebut dengan “karya seni mendidik”. 

Sementara aku diam memerhatikan set panggung, euforia penonton menunjukkan bahwa eksistensi Jamrud lebih dari sekadar penyemarak momentum perayaan tahunan saja. Meskipun aku tidak tahu apakah ada sebagian dari mereka yang dulunya seorang poser atau bukan, kuyakin petikan gitar Azis yang melodik, bass Ricky yang “dapat bernyanyi”, hingga hentakan drum Danby yang tetap powerful di usia senjanya telah menemani masa-masa pendewasaan dan prihatin kerumunan orang menonton panggung besar itu. Beberapanya juga kulihat penerus generasi selera musik bapak-ibunya, alias masih muda-muda; bahkan bisa jadi jauh lebih muda daripada aku. Apalagi waktu intro gamelan “Ningrat” dimainkan, pekikan “yayaya uu uuu” sekuat tenaga dan sepenuh hati memenuhi crowd sehingga sangat menyenangkan untuk didengar.

Satu kata yang bisa menggambarkan bagaimana penampilan Jamrud di hari pertama Jogjarockarta: nostalgik. Vokal Om Krisyanto stabil sepanjang setlist dan tidak mengurangi apa yang didengar di rekaman. Kerumunan orang yang di sana bukan hanya untuk unjuk hafalan saja, melainkan seperti reuni lintas kota dan generasi. “Basisnya kuat juga ini fans,” pikirku. Hiburan yang merakyat, meskipun pasti ada sebagiannya yang mengenal Jamrud dari MTV atau bahkan kaset dan CD bajakan. Meskipun begitu, aku tidak mengerti kenapa orang di sekitarku tidak terlalu hype karya mereka. Justru tetanggaku lebih getol mengenalkan Slank, ditambah ia menggambar mural wajah personil dan logo seperti kupu-kupu itu di dinding warungnya (tentu aku ingat karena dulu aku jajan di sana setiap hari).

Kesempatan menonton legenda ini secara langsung malah jadi membuatku berlatih untuk mengapresiasi karya yang jujur meski slengean. Sebenarnya, sebagai perempuan aku agak sedikit tidak nyaman dengan beberapa pemilihan kata-kata yang cukup frontal (dan heran kenapa aku tidak radikal langsung pergi dari kerumunan). Di lagu “Surti Tejo”, siapa yang berani memasukkan kata “alat kontrasepsi” secara terang-terangan dan malah menjadi hook lagu tersebut? 

Belum lagi lagu yang menurutku cukup eargasm tapi ternyata berjudul “Waktuku Mandi”, meski artikulasinya kurang jelas di konser malam itu. Kurasa orang-orang juga harus mendengarkan lagu “Asal British” untuk menyindir si dia yang suka “sok keminggris” dan tidak selera pada yang domestik. Meskipun begitu, sepertinya aku cocok untuk mendengarkan lagu-lagu Jamrud yang agak slow dan romantis seperti “Kabari Aku”. 

Sepulang dari konser, aku berpikir bahwa jika Jamrud kini dikenal hanya karena lagu mereka yang diputar setiap seseorang berulang tahun itu terlalu mendegradasi siapa sebenarnya legenda satu ini. Jika kita mengabaikan pemiihan diksi yang binal-binal dan skandal yang menerpa band itu di masa lampau, sejatinya ada dokumentasi keseharian orang-orang biasa yang dikemas dalam sebuah karya. Kesal pada tradisi bibit-bobot-bebet dalam sebuah hubungan, kehidupan bertetangga, pergaulan bebas, hingga pengakuan perasaan pada pasangan tercinta. Kadang formatnya bisa thrash metal, rock, ska, sedikit blues, akustik, dan lain-lain eksplorasi genrenya; dengan kata lain, mewah!

Mungkin jika di platform digital ada format remastered dari lagu-lagu lawasnya akan jauh lebih menyenangkan untuk didengar. Dan tentu saja, perlu ada regenerasi Jammers yang kelak akan dapat pujian, “selera musiknya terselamatkan!”. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles