Oleh: Balma Bahira Adzkia
Tidak bisa dipungkiri jika kini panggung aktivisme bisa terjadi di sebuah festival musik. Setelah hampir dua minggu linimasa media sosial kita dipenuhi berita banjir Sumatera, tiga musisi ini menolak lupa dan terus mengingatkan para penonton JogjaROCKarta Festival 2025 pada 6-7 Desember lalu mengenai duka yang melanda ujung barat Indonesia itu.
- Rebellion Rose

Tampil di hari pertama Jogjarockarta 2025, Rebellion Rose memanfaatkan momentum penampilan mereka di panggung untuk refleksi bersama dan berkabar mengenai kondisi di jantung peristiwa banjir bandang Sumatera melalui jaringan-jaringan penggemar; terutama dari Comrades (sebutan untuk penggemar) Medan.
“Kami mengumpulkan bantuan dari Comrades yang ada di Jawa. Kami salurkan untuk bisa diberikan ke tempat penanganan yang terdekat dari rumah (Comrades Medan) masing-masing. Kami juga akan mengadakan konser amal untuk lebih mempertegas langkah kita dengan membantu saudara-saudara kita yang mungkin bisa dibilang nahas sekali nasibnya di sana,” ujar sang vokalis, Fyan Sinner.
Aksi tersebut dilatari visual teks panggung bertuliskan “Lekas Pulih & Membaik Sodaraku SUMATRA”. Rebellion Rose adalah band punk-rock dari Yogyakarta yang memang terkenal mengangkat kritik sosial dan perlawanan.
- Down For Life

“RAKUS.. SERAKAH, KAU LUMAT RIMBA!”
Unit metal asal Solo ini juga tidak tanggung-tanggung dalam menyuarakan keresahan mereka. Malam itu Downforlife menggaet salah satu personil band Death Vomit, Oki Haribowo untuk membawakan single “Prahara Jenggala”. Lagu ini mengangkat kisah nyata perampasan hutan adat suku Dayak Hilir, Kalimantan Barat, dan beresonansi dengan wacana deforestasi yang digadang-gadang jadi biang parahnya banjir Sumatera.
“Prahara Jenggala” masuk dalam album Sonic/Panic Vol. 2 dan digarap bersama IKLIM (The Indonesian Climate Communications, Arts, and Music Lab), sebuah program dari gerakan Music Declares Emergency Indonesia. Lagu yang dirilis sejak 2024 ini semakin ganas di panggung Jogjarockarta saat klip-klip buldoser, hutan gundul, dan teks “NO MUSIC ON A DEAD PLANET” memenuhi layar.
- Usman and The Blackstones

Grup yang digawangi aktivis HAM Usman Hamid ini juga turut menyuarakan keresahannya mengenai krisis iklim. Lagu tentang hujan yang tak lagi hujan, berjudul “Rain”, dipilih untuk mengisi salah satu setlist penampilannya di hari kedua Jogjarockarta.
“Kita berduka untuk Sumatera. Tidak akan ada musik di dalam planet yang mati. Tidak akan ada musik di dalam Indonesia yang mati,” ujar Usman sambil membentangkan bendera bertuliskan slogan powerful Music Declares Emergency, “NO MUSIC ON A DEAD PLANET”. Pesan yang dalam untuk mengawali penggalan lirik yang tidak kalah kuat dari lagunya, “Rain that kills creatures and turns life to hell, rain it’s no longer rain.”
Dilansir dari blog pribadinya, Usman and The Blackstones adalah sebuah band rock yang didirikan pada tahun 2023 dan berkomitmen untuk menyuarakan berbagai isu sosial, politik, dan kemanusiaan melalui musik. Usman and The Blackstones berusaha untuk tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi perubahan dan meningkatkan kesadaran sosial.


