Sebagai generasi milenial yang tumbuh besar dan dipengaruhi oleh scene emo nasional, tak bisa dipungkiri bahwa Thirteen adalah salah satu nama yang paling berpengaruh. Meski sempat mengalami pasang surut dan gonta-ganti personel, band ini perlahan meredup setelah para anggotanya satu per satu mulai mretheli (berguguran).
Namun, sebuah kabar baik akhirnya datang. Para eks member Thirteen memutuskan untuk bersatu kembali dalam sebuah proyek baru bernama SIDE•B, yang resmi diumumkan pada 25 Juli lalu. Hanya berselang beberapa minggu setelah pengumuman tersebut, proyek ini langsung mengejutkan publik dengan kabar comeback mereka yang akan tampil di salah satu festival musik akbar nasional, Synchronize Fest.
Jujur, saya sendiri belum pernah merasakan pengalaman menonton Thirteen dengan formasi paling awal. Momen pertama dan terakhir saya menyaksikan mereka secara langsung adalah saat formasi Raynard mengisi posisi vokal di Yogyakarta pada tahun 2011 silam. Tepatnya di RRI Gejayan, mereka tampil menggebrak panggung bersama sederet nama besar seperti End Of Julia, Attack and The Headline, The Aline, Sweet As Revenge, hingga FSTVLST (yang saat itu namanya masih ditulis FESTIVALIST).

Didorong oleh rasa nostalgia yang memuncak, saya memberanikan diri untuk menghubungi pihak SIDE•B guna melontarkan beberapa pertanyaan seputar comeback para eks personel Thirteen ini. Menariknya, proyek ini ternyata berjalan mandiri tanpa adanya manajer band, sehingga Raynard sendiri yang langsung turun tangan untuk menjawab wawancara ini.
Simak obrolan lengkap saya bersama sang vokalis di bawah ini:
Q: Menarik jika melihat visualnya. Apakah penamaan SIDE•B ini sengaja dipilih karena huruf “B” itu jika dibelah terlihat seperti gabungan angka 1 dan 3 (13)? Bagaimana asal-usul sebenarnya?
A: Ide awalnya itu sebenarnya Bondry and Friends. Soalnya dia ketua geng kita, LOL, just kidding. Kalau soal huruf “B” itu atau 1+3 itu sebenarnya gimana orang menilainya saja sih. Layaknya sebuah koin, selalu ada dua sisi. Kami melihat Thirteen sebagai keluarga dan SIDE•B adalah sisi lainnya. Kami berdiri berdampingan, bukan untuk menggantikan, tapi untuk melanjutkan cerita yang sama.
Q: Sebenarnya, butuh waktu berapa lama bagi kalian untuk mematangkan dan mewujudkan proyek ini?
A: Prosesnya lumayan panjang ya. Pertemuan awalnya itu pas era pandemi lalu, entah mengapa bubar saja gak ada kelanjutannya. Nah, awal tahun ini tiba-tiba ada wacana lagi. Momentumnya juga pas lagi pada di satu kota semuanya, jadi aja… jadi!
Q: Punten, kalau boleh tahu, bagaimana proses diskusi dan komunikasi kalian dengan para personel Thirteen yang sekarang terkait proyek ini? 😁
A: Kita langsung terbuka sih, “Guys arahnya bakal gini gitu gini gitu, kalian gimana? Oke gak?” Dan untungnya respons mereka juga fine saja. No hard feelings.
Q: Sebelumnya mau cross-check nih, dari seluruh personel yang terlibat di album pertama Thirteen dulu, siapa saja yang sekarang bergabung di SIDE•B? Di luar almarhum Raditya Akbar, ya.
A: Bondry, Dicky, Rudye, dan Gue. Riko main bareng Thirteen itu sejak keberangkatan Jodi ke Jepang. Awalnya sebagai additional lalu jadi member inti.
Q: Banyak penggemar yang penasaran dan belum tahu nih. Setelah memutuskan cabut dari Thirteen waktu itu, kesibukan apa saja yang kalian jalani di luar dunia musik? Boleh diceritakan?
A: Semuanya aja ya sekalian? Rudye itu pas cabut dari Thirteen pastinya masih aktif bermusik dan fokus di bisnisnya. Dicky ini yang perjuangannya paling hebat; selama kita proses rekaman dan shooting MV, dia PP tuh Jakarta-Banjar soalnya kerjaan dia di sana.
Riko dari awal Thirteen sampai sekarang aktif di sektor periklanan. Kalau Bondry sibuk di salah satu clothing brand dan memulai sendiri brand-nya, Sunny South. Gue sih yang paling ‘planet’, gak ada yang tahu dia ngapain. Kadang ada, kadang enggak.
Q: Dalam video musik terbaru untuk lagu ‘Cherry Petite’, ada visual siluet sang drummer yang mengenakan topi terbalik. Potret tersebut sangat identik dengan gaya almarhum Raditya Akbar. Apakah visual itu sengaja dihadirkan sebagai bentuk tribute atau credit untuk almarhum?
A: If you know you know! No comment needed.
Q: Kalau kita boleh flashback, boleh diceritakan gak sih dulu bagaimana ceritanya Thirteen bisa sampai tampil di acara musik pagi, Dahsyat? 😁
A: Waduh! Ini sejujurnya agak lumayan berkesan, campur aduk di antara good or bad. Jadi, semuanya berawal dari waktu itu gue sakit dan gak bisa manggung. Dadakan banget itu! Tiba-tiba kepikiran saja untuk ngajak Widikidiw untuk jadi additional, kebetulan dia bisa.
Nah, beberapa lama kemudian Vierra naik daun dan sisi “screamer”-nya diangkat menjadi berita. Kami diundang untuk featuring dengan dia di acara tersebut. Believe it or not, kami mungkin band pertama yang teriak-teriak di TV nasional pada pagi hari. What a story!
Q: Bagaimana respons dari para Thirteen Army (sebutan bagi fans Thirteen) saat melihat kalian menggebrak panggung TV nasional kala itu?
A: Lupa, tapi seingat kami gak ada problem sih. Gak ada yang negatif tentang itu. Toh kalaupun ada… kami gak peduli. Kami puas bersenang-senang melakukan hal yang gak banyak orang bisa lakukan. Kalian gak pernah kan bikin almarhum Olga bisa sampai muter-muter di lantai sambil teriak-teriak? We did it!
Q: Sebenarnya saya sendiri juga mengikuti perjalanan Thirteen. Baru kemarin saya meminjam CD album pertama kalian ke teman, dan baru sadar kalau album itu dirilis di bawah label Fast Youth Records (FYR). Menariknya, label ini juga yang merilis album pertama Killing Me Inside, A Fresh Start for Something New. Sebenarnya label FYR ini bentukan dari teman-teman kalian sendiri atau bagaimana?
A: Time flies! Fast Youth Records ini yang punya namanya Yoga, dan salah satu orang yang berada di dalamnya itu Aca, vokalisnya Straight Answer.
Fun fact: Hand sign 13 dengan jari manis terlipat yang mendunia itu (cie, mendunia) dibikin sama salah satu stafnya Fast Youth yang waktu itu jadi MC di acara mereka, namanya Sofi. Kudos to her!
Awalnya album kita itu direkam secara full DIY (Do It Yourself) dan yang mixing itu namanya Afan dari Broken Heart Syndrome. Di tengah perjalanan recording, ketemulah kami dengan pihak FYR dan mereka menawarkan untuk menggarap album kami serta mencetak CD.
Q: Saya juga sempat tahu kalau Raynard, Jodi, dan almarhum Raditya Akbar pernah memiliki proyek musik bernama Measurement. Bisa diceritakan bagaimana sejarah proyek tersebut? Apakah itu terbentuk sebelum Jodi berangkat ke Jepang?
A: Measurement? Ini proyek sentimental sih sebenarnya. Waktu itu almarhum Adit sudah divonis leukemia. Kebetulan gue lagi sering main ke rumah beliau dan keinginan berkaryanya masih kuat sekali.
Basically, Measurement = Adit. Semua proses dari A sampai Z itu isi kepala dan jiwanya. Banyak cerita yang gak bisa diungkap, tapi salah satunya beliau pernah bilang kalau salah satu cita-citanya adalah melihat kami bisa berkumpul kembali.
Spirit beliau tidak akan pernah hilang dan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan kami. Kami juga gak menutup kemungkinan bila suatu hari nanti kami bisa saja merekam ulang lagu Measurement sebagai penghargaan atas dirinya.
Q: Bagaimana persiapan kalian untuk tampil di panggung Synchronize Fest nanti? Apakah ada kemungkinan kalian akan membawakan full set dari lagu-lagu di album pertama dulu?
A: Duh! Kami belum bisa ngasih bocoran apa pun tentang apa yang akan kami bawakan di Synchronize. Jadi, no comment. Kalau penasaran… DATENG MAKANYA!!!!!
Q: Sebagai pertanyaan terakhir, bagaimana pandangan kalian melihat perkembangan scene emo lokal hari ini? Menurut kalian, apa perbedaan paling terasa jika dibandingkan dengan era kalian dulu?
A: Kami gak terlalu ngikutin skena yang sekarang sih ya… jadi gak bisa statement apa pun. Gak bisa juga dibandingkan. Apa yang terjadi di 2000-an awal sudah gak relevan sama yang terjadi sekarang.
Kami cuman bisa bilang, jika kalian suka apa yang kalian lakukan sekarang… bersenang-senanglah! Kuncinya hanya satu: radiate positivity! Gak perlu membandingkan A dan B. Gak perlu dicari-cari salahnya, benarnya. Kalau gak sefrekuensi, ya tinggalin aja. F*** drama!
Bagi kamu yang merindukan energi masa-masa poni lempar dan distorsi emosional awal 2000-an, panggung Synchronize Fest tahun ini dipastikan akan menjadi mesin waktu yang sempurna. Melalui segmen pertunjukan tematik bertajuk Emo Revival, festival ini siap membangkitkan kembali kejayaan musik emo dan post-hardcore lokal tanah air.
Jadi, pastikan kamu tidak melewatkan penampilan perdana SIDE•B (Thirteen 2009 Era) yang penuh sejarah ini. Menariknya lagi, keseruan panggung nostalgia ini tidak hanya milik SIDE•B sendirian. Sederet nama veteran legendaris lainnya seperti The Side Project, aksi reuni akbar Killing Me Inside Re:union (Onadio Leonardo, SanSan, dan Raka Cyril), hingga Alone at Last dan Killed By Butterfly juga dipastikan akan ikut menggebrak panggung yang sama.



