Oleh: Balma Bahira Adzkia
“Mbak, aku takut kalo tiba-tiba habis ini ‘Ini Abadi’,” kataku pada Mbak Ruri, teman menontonku yang baru kukenal di tempat.
You attract what you fear, kata orang-orang. Benar saja, sesaat setelah permainan solo keyboard dari Adam Adenan, transisi intro ke lagu yang kusebut “keramat” menuntun penonton menyanyikan verse pertama: “Dihentak sunyi~”.
Biasanya, aku akan larut dalam hingar bingar penonton yang melafalkan setiap bait dengan lancar dan lantang. Namun, malam itu aku lebih banyak diam. Rekaman peristiwa personal dalam kepalaku berjumpa juga dengan birunya orang-orang di sekitarku. Tentu bervariasi pekatnya, tanpa kutahu apa pemantik utama mereka menjadikan “Ini Abadi” sama-sama sakral.
Lambat laun kusadari, lebih dari 20 lagu malam itu disusun seperti satu alur cerita. Seluruh kejadian dikemas dalam transisi yang cepat nan emosional, sesekali istirahat sebentar saat sedang speech atau Maul Ibrahim menyapa crowd. Mungkin inilah bentuk riil dari jawaban yang selalu mereka lontarkan di setiap pertanyaan interview, “Kenapa sih, nama albumnya ‘Dalam Dinamika’?”
Dari permulaan, baru saja menyesuaikan diri dengan dingin dan luasnya venue, Perunggu memilih untuk langsung membakar adrenalin penonton. Sesaat setelah kamera menyorot Maul Ibrahim (vokal & gitar), Adam Adenan (bass, piano, keyboard, vokal), dan Ildo Hasman (drum, vokal) bergantian memasuki panggung, tabuhan drum intro “Tarung Bebas” langsung “membungkam” keramaian dan berganti dengan pekikan “Oi! Oi! Oi!”. Gila.
Tidak ingin melewatkan suasana yang langsung memanas sejak lagu pertama, tanpa ampun “Canggih” menghajar kerumunan. Lagu yang bagiku multitafsir ini perlahan menyelinap membangunkan sedikit memori empat tahun silam saat mendengarkan Perunggu untuk pertama kalinya. Namun, daripada tenggelam dalam kenangan (akh!), aku jauh lebih terpukau karena visual lagu itu yang menampilkan deretan musisi yang mengilhami lahirnya karya-karya Perunggu. Jeff Buckley, Radiohead, Portishead, Weezer, Sigur Ros, Sheila on 7, The Adams, Polka Wars, Pure Saturday, dan lain-lain. Nama-nama besar tadi timbul-tenggelam bergantian dalam warna biru, orange, dan putih memenuhi sisi kanan, kiri, dan tengah panggung. Betul-betul canggih!

Selama lebih dari dua jam durasi pertunjukan, sesuatu dari dalam diriku seperti diajak memasuki lorong waktu; persis seperti objek-objek yang ditampilkan di layar. Ia seperti kelebatan sequence shot pemandangan jendela kereta saat dipasangkan dengan penampilan “Amalan Baik”, padatnya lalu lintas dan rutinitas harian di lagu “Gemilang”, dilanjutkan kaleidoskop album foto para ibu yang ditampilkan berjajar di lagu “Tapi”.
Meski kurasa temponya jadi sedikit terburu-buru, suasana hangat dan intimate tetap terasa saat pendar cahaya dari balik tirai ruang tamu menjadi latar lagu “Berhasil”. Rupanya, itu “pemanasan” sebelum crowd mendadak diajak memasuki terowongan black hole dengan kecepatan tinggi dan ditatap secara close up oleh sepasang mata senja yang keriput; bergantian mengajak penonton larut dalam naik-turunnya emosi lagu “Abu”. Kalau jeli, sesekali kalian bisa melihat siluet Maul, Adam, atau Ildo di dinding sisi kanan dan kiri! Apresiasi untuk visual jockey dan siapapun konseptor tata letak penampilan malam itu.
Selain dimanjakan visual yang mengantarkanku tenggelam dalam pikiran sendiri, kejutan-kejutan yang semi-rahasia dikeluarkan semua dalam semalam.
Pernah dengar gitar bernyanyi? Nah, itulah penampilan saat Eross Candra, gitaris Sheila on 7, mengisi part instrumental sebelum pre-chorus “Silih berganti ruang kau penuhi… Ku perlu hadir di semua yang kau tangisi~” . Pastikan Riuh Akhiri Malammu versi asli saja sudah membuatku tidak karuan, bagaimana jadinya setelah mendengar versi showcase?
Aku dan Mbak Ruri menebak-nebak lagu apa yang nanti akan dibawakan Kunto Aji. “Ah, kayaknya ‘33x’ deh,” pikirku. Tiba-tiba, pelantun tembang “Terlalu Lama Sendiri” itu in frame di videotron disusul tabuhan intro “Kalibata, 2012”. AH! Kalau setelah ini tidak ada paragraf lagi, mungkin aku telah terhantam dan terbantai track ke-9 album Memorandum tersebut (hehe, bercanda). Di beberapa part, aku mengaku agak kalut karena mengingat terakhir kali menonton Perunggu, di lagu yang sama, ada air mata yang jatuh—hebatnya kali ini tidak.
Kejutan lainnya adalah fusion antara lagu “Per Hari Ini” dengan “Menyala”. Medley yang sangat smooth sampai-sampai aku baru tersadar di tengah durasi kalau ini dua lagu dijadikan satu. Format yang juga dikolaborasikan dengan paduan suara dari PSM UGM menambah warna baru di dua karya yang terbilang jarang dibawakan live ini.
Di Pertunjukan Dalam Dinamika kemarin, ada satu lagi lagu yang tidak pernah dibawakan langsung saat manggung reguler, yakni “Berita Buruk”. Bocoran ini pernah dibeberkan Perunggu dalam video interview bersama Harian Kompas (diunggah 25 April 2026). Rasa penasaranku terjawab saat bisa menonton Ildo Hasman selaku vokal utama di lagu tersebut berhasil membawakannya dengan baik di Yogyakarta. Jarang sekali kudapati seorang drummer tetap memainkan instrumennya sambil bernyanyi satu lagu penuh, dengan tempo dan suara yang stabil mirip rekaman pula!
Selama pertunjukan pula aku menyimpan satu pertanyaan. Apa yang membuat gelombang energi Merunggu bisa sebesar itu, padahal unit rock ini baru melambung namanya 3-4 tahun terakhir? Apakah karena karya-karyanya yang kian terasa bagi insan-insan yang sedang berprogres mendewasa?
Cukup mengherankan bagiku saat frasa aba-aba seperti “hey!” dan “tu wa ga pat” dirapalkan secara kolektif dan otomatis terlontar di hentakan-hentakan tertentu. Crowd chant sahutan ‘ALLAHUAKBAR!’ setelah penggalan lirik “di antara takbir” (Pastikan Riuh Akhiri Malammu), isian ‘melantunlaaah~’ (Kalibata, 2012), hingga presensi nama ayah teman sekelas ‘Bambang, Agus, Yusuf, Heri, Dedi, dan Ikhlas. AUUU~~~’ (Aku Ada Untukmu) juga tampak menjadi line favorit untuk dinyanyikan lantang-lantang.
Menurutku, nyawa dari live performance itu terletak di tiga hal: penampilan talent, energi dari crowd, dan bagaimana pertunjukan tersebut dikemas secara visual. Ketiga aspek itu terpenuhi di Pertunjukan Dalam Dinamika yang diselenggarakan oleh People of The Right Project berkolaborasi dengan Swasembada Kreasi ini.

Talent utama “band rock pulang kantor” dengan formasi lengkap (Maulana Malik Ibrahim, Ildo Reynardian Hasman, dan Adam Faisal Adenan) beserta additional player Dennis Ferdinand, Deana Annisa, dan Bima Errawan tampil totalitas dan terlihat lepas saat merayakan showcase lanjutan dari edisi Jakarta pada November 2025 lalu. Ditambah pengalaman kolaborasi dengan musisi hingga grup paduan suara menjadi kenangan tersendiri di titik kedua ini.
Tata lampu sorot, gambar-gambar yang ditampilkan, penyusunan setlist, sampai plot narasi pertunjukan dari awal ke akhir terlihat sebagai satu konsep yang matang. Sebab yang dicari oleh penonton masa kini saat menonton konser bukan lagi bahan ngasih makan medsos (toh juga baru boleh upload setelah tanggal 22 November 2026); melainkan pengalaman baru yang layak diceritakan ke banyak orang. Bukan untuk mendikte penonton menginterpretasikan lagu dengan makna tertentu, melainkan memperkaya pengalaman dan bahkan memperbarui wawasan mereka saat menyaksikannya.
Akhir kata, aku berpendapat bahwa showcase dengan harga tiket minimal Rp275.000 itu sangat worth it, sih. Lokasi tengah kota, daftar lagu lengkap, dan interaksi yang nyata antar penggemar sudah cukup merangkum kebahagiaan akhir pekan kedua bulan Mei di Jogja. Tinggal dua kota lagi yang akan dituju: Surabaya dan Bandung. Dan semoga dari kota-kota tersebut semakin banyak kesan yang bisa dibagi dan diceritakan!


