Long Live the Crowdsurfer!

Search
Close this search box.

Simak Siar dan Semangatnya untuk Skena Musik di Yogyakarta

Oleh: Asyam Ashari

Menjelang enam saya berangkat menuju venue Simak Siar #3 bersama Octa Agus, fotografer The Kick, band yang sedang ramai diperbincangkan anak muda Yogyakarta dalam beberapa tahun terakhir. Sesampainya di venue yang lebih luas tempat parkirnya daripada panggung dan tempat penonton itu sendiri saya kagum, Simak Siar selalu berhasil menghadirkan setting panggung terbaik untuk kelas gigs. Setelah menyaksikan langsung di Simak Siar #1 dan absen di Simak Siar #2 akhirnya saya kembali menghadiri acara yang menggaungkan “Inklusifitas Musik Yogyakarta” sebagai judul zine edisi ketiganya ini. 

Saya dan Octa memesan makan malam dulu sebelum menyiapkan diri menyaksikan pagelaran Simak Siar #3. Sembari berbincang dengan kru dan pemain dari band yang pertama yang akan tampil, The Backdoor Hours. Acara ini selalu digarap dengan serius, batin saya. Maklum saja, orang-orang yang bekerja di balik Simak Siar ini bukanlah mahasiswa penggiat musik yang berusaha membuat acara hanya untuk bersenang-senang. Mereka adalah orang-orang dari Hectic Creative, sebuah badan yang bergerak di bidang industri kreatif terkhusus musik. Bagaimana tidak, mereka berpengalaman mengadakan acara seperti Buzz Youth Fest dan Birdy Tour milik solois ternama, Pamungkas. 

Adzan Isya’ Selesai berkumandang, DJ yang memutar lagu pengiring sudah membereskan alatnya, The Backdoor Hours mempersiapkan diri untuk tampil. Saat The Backdoor Hours tampil, para penonton yang menunggu di depan tempat masuk akhirnya bergeser ke depan panggung. bad bad idea! membuka setlist mereka. Mengenalkan lagu-lagu dari album Melodrama Magic yang sudah Marsha, El, dan Naomi rilis pada  Desember 2023. Penonton mengamini musik yang dibawakan oleh The Backdoor Hours memang menyenangkan, ditambah seluruh personil dan kru mereka adalah perempuan, sebuah gerakan baru yang tidak banyak saya lihat di Yogyakarta. 

Setelah The Backdoor Hours kini giliran Nood Kink untuk tampil. Empat orang pekerja ini selalu menyempatkan waktunya ketika ada tawaran manggung. Meskipun Mathias, salah satu dari mereka harus bekerja di Jakarta, Fikra Ahnaf dari The Bunbury hadir menggantikan. Penonton semakin rapat maju ke depan, mengangguk-angguk menikmati musik Indie Pop dari Nood Kink. Beberapa dari penonton bahkan sudah hafal lagu-lagu dari band yang baru merilis EP berjudul Something Good pada Agustus 2023 lalu ini. Hal ini membuat Adit, Tari dan Tyo terharu. Terlebih, lelucon-lelucon dari Tyo, yang bekerja sebagai penyiar radio, di sela-sela lagu membuat penonton lebih terhibur. 

Situasi kian panas ketika sebuah band yang menggunakan nama ibukota negara Papua Nugini tampil. Yak, Port Moresby. Band yang juga beranggotakan empat orang ini juga hanya hadir dengan tiga personil tetap mereka, lantaran Harits sedang berada di Jerman untuk program pertukaran pelajar. Posisi Harits digantikan sementara oleh Dylan, yang kata penonton selalu hadir disetiap acara siapapun yang tampil, skena banget. Penampilan ganas Port Moresby akhirnya membuat penonton mulai melakukan crowdsurfing. Lagu-lagu kencang Port Moresby membuat Vano, Faraaj, dan Doni bermandikan keringat, sedang Dylan masih dengan jaket ala Liam Gallaghernya. Situasi semakin membara saat Port Moresby membawakan lagu-lagu dari EP mereka Ruthless/You Lose I Win yang mereka rilis September 2023 kemarin. 

Penampilan terakhir menurut saya adalah yang paling ditunggu oleh para penonton Simak Siar #3, The Jeblogs. Amir, Ryan, Mahoni, Dani, dan Prima ini baru saja meluncurkan album penuh pertama mereka Sambutlah di akhir tahun 2023 kemarin. Penampilan di Simak Siar #3 ini adalah penampilan pertama mereka setelah merilis album. Penonton sudah mulai kacau sejak lagu pertama, berdansa, crowdsurf, dan berteriak lantang. Tidak lupa saya juga mengabadikan cuilan penampilan mereka. Saat lagu Bersandarlah, seluruh penonton seperti mengeluarkan nyawa mereka, termasuk saya. Saat penampilan The Jeblogs selesai, banyak penonton yang berteriak meminta Track 8 dibawakan tapi The Jeblogs menolak, bagaimana tidak, lagu yang berdurasi hampir sembilan menit tersebut adalah salah satu lagu favorit dalam album Sambutlah dan membutuhkan Triga Coca untuk mengisi salah satu bagiannya. “Sesok wae ning showcase!” balas Amir. 

Acara selesai, tapi tentu tidak untuk banyak orang yang memanfaatkan waktu selepas acara sebagai ajang bersosialisasi. Termasuk saya. Memilih untuk menyapa teman-teman yang tadi tampil, saya menuju belakang panggung. Ternyata, di belakang panggung ada Nico Okada, vokalis dari Untitled Joy. Sebagai salah satu senior di skena musik Yogyakarta, Nico mengajak saya dan beberapa orang yang masih berada di belakang panggung untuk berbincang. Nico ternyata membicarakan keresahan yang ada di skena musik Yogyakarta. Sepertinya tidak perlu saya tulis semua di sini, tetapi salah satunya adalah tentang minimnya jurnalis musik di Yogyakarta. Keresahan inilah yang membuat saya melahirkan tulisan ini. 

Simak Siar tidak hanya hadir sebagai wadah bagi para musisi untuk menampilkan karya-karya mereka, tetapi juga berusaha menghadirkan ruang yang menyenangkan untuk para pendengar musik terkhusus musik-musik independen di Yogyakarta. Terlebih, Simak Siar memiliki salah satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh banyak kolektif musik independen di Yogyakarta, yaitu kapital. Semoga ini menjadi hal baik yang memicu pertumbuhan kancah musik di Yogyakarta.

Panjang umur musik independen di Yogyakarta!

Asyam Ashari adalah seorang fotografer panggung yang bergerak di skena musik Yogyakarta sejak 2015. Asyam dapat dihubungi lewat instagram @topiputih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Articles